Di sini, di antara manusia-manusia yang mendungukan diri. Di sini, di antara manusia-manusia yang membutakan diri, dan di sini, di antara manusia-manusia yang menyibukan diri.
Sang pujangga yang membutakan mata, berlagak laksana mereka sang tuna netra. Sang pianis yang mengiris pelipis, tak ingin lagi menampakan diri meski sorak-sorai itu kaya akan rasa manis. Atau penari yang mematahkan kaki, dan borok menjadi sosok yang menggentayangi diri. Biar nanah berkalang ramah bersama sang darah; ia penari yang tak lagi sudi menggunakan gincu merah.
Di sana, di kerumunan orang-orang yang tertawa; mereka yang tak tahu tengah lari dari apa. Menanti diantara banyaknya masa dan manusia; saat-saat kala sang dunia tak lagi menjadi rumah sumber dari segala duka. Dunia selaku panggung praduga, bumi yang lugu menangis tergugu. Manusia mempertanyakan segala yang ada, dan Semesta menyulam lorong bagi sang waktu.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ